Oleh: I Gede Putu Rahman Desyanta, CEO Baliola (Bagian Kedua dari Tiga Artikel)
(Artikel berikut sebelumnya dipublikasikan di situs Bekraf)
Menyama Braya bukan sekadar ungkapan budaya yang diucapkan dalam upacara atau pidato. Ia adalah cara hidup yang berdenyut dalam percakapan di bale banjar, dalam gotong royong membersihkan pura, dan dalam semangat saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Nilai ini tidak diatur oleh aturan tertulis, melainkan tumbuh dari kebiasaan, keyakinan, dan kesepakatan bersama yang hidup di tengah masyarakat.
Yang membuat Menyama Braya begitu istimewa bukanlah karena ia mengikat melalui paksaan, melainkan karena ia menjaga hubungan antarmanusia melalui lima nilai utama yang secara alami saling memperkuat dan melindungi satu sama lain.
Kelima nilai tersebut adalah:
1. Kepemilikan Bersama (Shared Ownership)
Di desa adat Bali, tidak ada seorang pun yang benar-benar berdiri sendiri. Bale banjar, balai pertemuan, bahkan hasil panen kolektif sering kali dikelola sebagai milik bersama. Konsep kepemilikan kolektif ini melahirkan rasa tanggung jawab sosial yang kuat. Ketika masyarakat merasa memiliki sesuatu secara bersama-sama, mereka juga merasa berkewajiban untuk merawat dan menjaganya.
Dalam konteks digital, nilai ini sangat penting agar kita tidak hanya menjadi konsumen pasif dari berbagai platform, tetapi juga merasa menjadi bagian dari komunitas digital tersebut. Model platform terbuka (open platform), koperasi digital, dan komunitas berbasis gotong royong merupakan manifestasi baru dari nilai ini di era digital.
2. Transparansi (Transparency)
Rapat banjar merupakan bentuk nyata demokrasi partisipatif. Setiap orang dapat menyampaikan pendapatnya. Setiap usulan dibahas secara terbuka. Bahkan untuk isu-isu yang sensitif sekalipun, diskusi dilakukan dalam ruang yang memberikan kesempatan kepada setiap suara untuk didengar. Keterbukaan ini menciptakan rasa aman dan rasa memiliki secara kolektif. Namun di dunia digital, transparansi sering kali tergantikan oleh algoritma yang tersembunyi dan kebijakan platform yang tidak jelas.
Nilai ini mendorong kita untuk membangun ekosistem digital yang transparan dalam pengelolaan data, jelas dalam logika kurasi, dan adil dalam distribusi manfaat.
3. Kesetaraan (Equality)
Meskipun masyarakat Bali memiliki struktur adat tertentu, Menyama Braya memastikan bahwa setiap anggota komunitas memiliki hak dan kewajiban yang setara. Dalam kegiatan gotong royong, tidak ada kasta yang mendominasi—semua orang turut berpartisipasi.
Kesetaraan ini melahirkan solidaritas horizontal, di mana tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah karena setiap orang berkontribusi secara setara.Dalam dunia digital, kesetaraan berarti akses yang sama terhadap peluang, kesempatan yang sama untuk menyampaikan suara, serta model partisipasi yang inklusif. Hal ini dapat diwujudkan melalui teknologi terdesentralisasi dan komunitas digital yang menghargai kontribusi, bukan kedekatan relasi ataupun kekuasaan.
4. Kepercayaan (Trust)
Inilah inti dari semuanya. Kepercayaan adalah alasan seseorang dapat menitipkan anaknya kepada tetangga atau meninggalkan rumahnya tanpa terkunci ketika mengikuti upacara adat. Dalam lingkungan adat, kepercayaan dibangun melalui pengalaman bersama dan reputasi yang terbentuk dari interaksi nyata yang berlangsung terus-menerus.
Di dunia digital yang serba instan, kepercayaan sering kali dibangun hanya melalui simbol seperti logo, tanda verifikasi (checkmark), atau sistem penilaian (rating). Namun simbol-simbol tersebut bersifat dangkal jika tidak didukung oleh mekanisme yang dapat diverifikasi, transparan, dan konsisten dalam melindungi hak pengguna.
5. Pemberdayaan (Empowerment)
Menyama Braya bukan hanya tentang melindungi mereka yang lemah, tetapi juga mendorong setiap individu untuk berkembang dan mencapai potensi terbaiknya. Komunitas yang sehat tidak hanya menjaga kedekatan sosial, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan—baik secara moral, emosional, maupun ekonomi.
Dalam ranah digital, prinsip ini berarti membangun sistem yang memberikan ruang bagi semua peserta untuk bersuara, berkembang, dan memperoleh kesempatan yang setara. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui program mentoring, dukungan terhadap komunitas digital minoritas, dan pembangunan ruang digital yang berlandaskan nilai-nilai bersama.
Sebuah Ekosistem yang Hidup dan Terus Berkembang
Kelima nilai tersebut tidak berdiri sendiri. Mereka membentuk jaringan nilai yang saling terhubung dan saling mendukung:
Kepemilikan bersama menumbuhkan rasa peduli; Transparansi mendorong akuntabilitas; Kesetaraan membangun kepercayaan sosial; Kepercayaan memperkuat kolaborasi; Pemberdayaan memastikan pertumbuhan bersama.
Nilai-nilai inilah yang telah menopang kehidupan masyarakat Bali selama ratusan tahun. Dan kini, ketika dunia bergerak menuju digitalisasi yang semakin luas, kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan penting:
Apakah nilai-nilai ini tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat menjadi fondasi bagi sistem digital masa depan?
Jawabannya akan mulai terlihat ketika kita mencoba memetakan nilai-nilai tersebut ke dalam teknologi.
Salah satu bidang teknologi yang paling relevan untuk menjawab tantangan tersebut adalah blockchain—bukan semata-mata karena teknologi ini sedang populer, tetapi karena prinsip dan mekanismenya memiliki keselarasan yang kuat dengan semangat Menyama Braya.
Bersambung pada Bagian 3: “Blockchain: Ketika Nilai-Nilai Tradisional Bali Bertemu dengan Teknologi Masa Depan”
Artikel Pertama: “Menyama Braya Digital, Dari Bale Banjar ke Blockchain”